Pengusaha Nilai Penangkapan Maduro Belum Berdampak ke Perdagangan, Namun Risiko Logistik Diwaspadai

Foto: Ketua Umum Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI), Benny Soetrisno saat ditemui di kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Rabu (22/1/2025).

Jakarta,Commentary– Kalangan pelaku usaha menilai penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump belum memberikan dampak langsung terhadap arus perdagangan lintas kawasan Amerika, termasuk ekspor dan impor dari serta ke Indonesia. Meski demikian, pelaku usaha menekankan perlunya kewaspadaan terhadap potensi dampak lanjutan akibat eskalasi geopolitik tersebut.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno mengatakan hingga saat ini belum terlihat gangguan pada aktivitas perdagangan, baik dengan Amerika Serikat maupun negara-negara di Amerika Selatan.

“Efek Amerika Serikat menyerang Venezuela belum ada terhadap ekspor maupun impor dari Benua Amerika, baik dari dan ke Amerika Serikat maupun dari dan ke Amerika Selatan,” ujar Benny kepada awak media, Selasa (6/1/2025).

Ia menyebut pelaku usaha di dalam negeri masih mencermati perkembangan situasi tanpa mengambil langkah terburu-buru. Aktivitas perdagangan dinilai tetap berjalan normal karena pelaksanaan kontrak dan kebutuhan pasar masih menjadi pertimbangan utama eksportir dan importir.

Meski demikian, Benny memperkirakan potensi perubahan jalur pelayaran dapat terjadi apabila ketegangan berlanjut, khususnya untuk pengiriman ke kawasan Amerika Selatan.

“Saya menghitung akan adanya perubahan angkutan kapal laut untuk tujuan Amerika Selatan melalui Atlantic Rim, bukan Pacific Rim,” katanya.

Menurut Benny, perubahan rute tersebut berpotensi memicu kenaikan biaya logistik, terutama akibat faktor keamanan. Kapal pengangkut barang kemungkinan harus menempuh jarak lebih jauh demi menghindari wilayah rawan konflik.

“Kepastian kenaikan biaya memang belum terlihat, tetapi biasanya faktor keamanan akibat perang akan menjadi bagian dari kenaikan biaya,” ujarnya.

Pandangan senada disampaikan Supply Chain Indonesia (SCI). Lembaga tersebut menilai konflik di Venezuela memang belum berdampak langsung terhadap jalur perdagangan Indonesia–Amerika Selatan, namun risiko dampak sekunder tetap perlu diantisipasi.

Founder dan CEO SCI Setijadi menjelaskan bahwa gangguan geopolitik di negara produsen energi berpotensi memicu volatilitas harga minyak global. Kondisi tersebut dapat berdampak pada kenaikan biaya bahan bakar serta ongkos logistik internasional.

“Kenaikan biaya bunker dan penyesuaian surcharge pelayaran berpotensi meningkatkan biaya freight, baik pada rute lintas Pasifik maupun rute dengan transit di hub utama global,” kata Setijadi.

Ia menambahkan, peningkatan biaya logistik dapat menekan daya saing produk ekspor Indonesia, khususnya komoditas manufaktur dan produk bernilai tambah menengah yang sensitif terhadap ongkos pengiriman.

Selain faktor biaya, eskalasi ketegangan global juga dinilai berpotensi memengaruhi keandalan jadwal pengiriman. Penyesuaian rute pelayaran, konsolidasi muatan, hingga perubahan pelabuhan singgah oleh perusahaan pelayaran dapat memperpanjang waktu pengiriman dan meningkatkan ketidakpastian pasokan ke pasar Amerika Selatan.

“Kondisi ini dapat berdampak pada negara tujuan utama ekspor Indonesia di kawasan tersebut, seperti Peru dan Brasil,” pungkas Setijadi.

Tutup