Yayasan Rumah Juang Indonesia Serukan Persatuan Nasional Hadapi Gejolak Geopolitik Global

Jakarta,Commentary-Ketua Dewan Pembina Yayasan Rumah Juang Indonesia, Muh Ageng Dendy Setiawan, menyerukan pentingnya memperkuat persatuan nasional di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Menurutnya, eskalasi konflik di berbagai kawasan dunia, khususnya di Timur Tengah, berpotensi memicu ketidakstabilan yang berdampak luas terhadap perekonomian dan keamanan internasional.

Dendy menilai dinamika geopolitik global yang kian memanas tidak hanya berpengaruh terhadap stabilitas politik internasional, tetapi juga dapat memicu krisis ekonomi global, gangguan rantai pasok energi dan pangan, serta menimbulkan risiko terhadap stabilitas keamanan nasional berbagai negara, termasuk Indonesia.

“Situasi geopolitik dunia saat ini menuntut seluruh elemen bangsa untuk memperkuat persatuan nasional. Indonesia harus tetap solid dan menempatkan kepentingan nasional di atas segala perbedaan,” ujar Dendy kepada Commentary.co.id

Pria yang juga merupakan eksponen aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) itu menilai bahwa dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, dukungan terhadap kepemimpinan nasional dan berbagai program strategis pemerintah menjadi penting untuk menjaga stabilitas negara.

Ia menyatakan dukungannya terhadap langkah dan program kerja Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan nasional, menjaga stabilitas ekonomi, serta meningkatkan kesiapsiagaan pertahanan negara di tengah dinamika geopolitik global.

Menurut Dendy, penguatan ketahanan pangan, energi, stabilitas ekonomi, serta sistem pertahanan nasional merupakan langkah strategis agar Indonesia mampu mengantisipasi berbagai dampak yang mungkin timbul apabila konflik global semakin meluas.

“Potensi krisis ekonomi global dan ancaman terhadap stabilitas keamanan nasional harus diantisipasi sejak dini. Karena itu, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat sipil menjadi sangat penting untuk memastikan Indonesia tetap kuat dan stabil,” ujarnya.

Dendy juga mengajak masyarakat untuk menjaga persatuan serta tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang berpotensi memecah belah bangsa di tengah situasi global yang sensitif.

“Sejarah menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mampu melewati berbagai tantangan besar ketika persatuan nasional dijaga. Dengan kebersamaan serta dukungan terhadap arah kebijakan pemerintah, saya yakin Indonesia mampu menghadapi dinamika geopolitik global dengan tetap menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan nasional,” katanya.

Lebih lanjut, Dendy menilai bahwa gagasan persatuan nasional sejatinya telah lama menjadi fondasi pemikiran kebangsaan Indonesia, sebagaimana sering ditekankan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno.

Menurutnya, dalam berbagai pidatonya, Sukarno menegaskan bahwa persatuan nasional merupakan upaya menyatukan seluruh elemen bangsa—lintas suku, agama, dan golongan—berdasarkan pengalaman sejarah yang sama serta cita-cita kolektif untuk mewujudkan kemerdekaan dan keadilan sosial.

Dendy juga mengingatkan bahwa Sukarno kerap menyinggung bahaya politik adu domba yang pernah digunakan kekuatan kolonial untuk melemahkan bangsa Indonesia. Dalam pidatonya pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional 1964 di Stadion Utama Senayan, Jakarta, Sukarno menggambarkan bagaimana imperialisme berupaya memecah belah rakyat Nusantara.

“Orang Jawa dibikin benci kepada orang Sumatera. Orang Sumatera dibikin benci kepada orang Jawa. Orang Jawa dibikin benci kepada orang Sulawesi. Orang Sulawesi dibikin benci sama orang Jawa,” ujar Sukarno dalam pidato tersebut.

Dendy menilai peringatan tersebut menunjukkan bagaimana politik adu domba menjadi salah satu strategi nonmiliter yang digunakan kolonialisme untuk melemahkan solidaritas bangsa. Karena itu, Sukarno terus menekankan bahwa kepentingan bangsa harus ditempatkan di atas kepentingan kelompok maupun golongan.

Ia juga mengutip pesan Sukarno dalam pidato peringatan Hari Kebangkitan Nasional 1963 di Bandung yang mengibaratkan bangsa Indonesia sebagai sapu lidi.

“Jikalau lidi-lidi itu digabungkan, diikat menjadi sapu, mana ada manusia bisa mematahkan sapu lidi yang sudah terikat,” kata Sukarno.

Pepatah yang sering dikutip Sukarno, “Rukun agawe santosa,” lanjut Dendy, mengandung makna bahwa kerukunan dan persatuan akan melahirkan kekuatan bagi sebuah bangsa.

Menurutnya, pesan tersebut tetap relevan bagi Indonesia saat ini. Di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks, persatuan nasional dinilai menjadi modal utama untuk menjaga stabilitas negara, memperkuat ketahanan nasional, serta memastikan Indonesia mampu menghadapi berbagai tantangan global tanpa mengorbankan kedaulatan dan kepentingan nasional.

Tutup