MUI Kabupaten Bekasi Dorong Penguatan Keluarga Hadapi Tantangan Sosial Generasi Muda
Kabupaten Bekasi, Commentary — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bekasi mendorong penguatan ketahanan keluarga sebagai salah satu langkah strategis dalam menghadapiberbagai tantangan sosial yang berkembang di kalangan generasi muda, termasuk perdebatan publik mengenai isu LGBT.
MUI menilai pendekatan yang mengedepankan komunikasi, pendidikan karakter, pendampingan, serta penciptaan lingkungan sosial yang sehat perlu dikedepankan, dibandingkan respons yang hanya berorientasi pada kecaman dan stigma.
Ketua MUI Kabupaten Bekasi, KH Prof Mahmud, mengatakan keluarga memiliki peran penting sebagai lingkungan pertama bagi anak dalam memperoleh perhatian, kasih sayang, pendidikan moral, serta keteladanan.
Menurutnya, kehadiran orang tua tidak cukup hanya secara fisik, tetapi juga perlu dibangun melalui keterlibatan emosional dan komunikasi yang terbuka. Hal tersebut dinilai semakin penting di tengah perubahan sosial serta derasnya arus informasi melalui media digital.
“Solusi permasalahan LGBT yang paling strategis bukanlah memperbanyak konflik sosial, melainkan memperkuat ketahanan keluarga. Orang tua perlu hadir secara emosional, bukan hanya secara fisik. Anak-anak membutuhkan perhatian, dialog, kasih sayang, dan figur teladan,” ujar KH Prof Mahmud, Senin (1/9/2026).
Ia menilai persoalan sosial yang dihadapi generasi muda tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu pendekatan. Penguatan keluarga, kata dia, perlu berjalan beriringan dengan pendidikan karakter di sekolah dan kepedulian masyarakat.
Sekolah diharapkan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga memberikan pembinaan mengenai tanggung jawab, pengendalian diri, etika pergaulan, serta nilai agama dan budaya.
Selain itu, KH Prof Mahmud mendorong pendekatan keagamaan dilakukan secara persuasif, ramah, dan mendidik. Menurutnya, dakwah seharusnya menjadi sarana pembinaan masyarakat, bukan sekadar ruang untuk memberikan penghakiman.
“Dakwah yang menyejukkan sering lebih efektif dibandingkan dengan dakwah yang hanya berisi kemarahan. Tujuan agama bukan sekadar menghakimi, tetapi mengarahkan manusia menuju kehidupan yang lebih baik,” ucapnya
Ia juga menilai Kabupaten Bekasi memiliki modal sosial yang dapat menjadi kekuatan dalam membangun lingkungan yang positif bagi generasi muda. Budaya gotong royong, kedekatan keluarga, serta kehidupan sosial masyarakat dinilai dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan sosial.
Karena itu, keluarga didorong untuk memperbanyak aktivitas bersama tanpa ketergantungan pada gawai, melibatkan remaja dalam kegiatan olahraga, seni, organisasi, maupun kegiatan sosial. Kehadiran figur teladan yang dekat dengan anak juga dinilai penting untuk membantu remaja membangun arah dan tujuan hidup.
“Anak yang didengar cenderung lebih terbuka dibanding anak yang hanya dihakimi. Ketika anak tumbuh dalam keluarga yang hangat, memperoleh pendidikan moral yang baik, memiliki tujuan hidup yang jelas, serta merasa dicintai dan dihargai, mereka akan lebih siap menghadapi berbagai pengaruh zaman,” ungkapnya.
KH Prof Mahmud menegaskan, pembangunan generasi muda yang tangguh harus dimulai dari lingkungan terdekat. Menurutnya, keluarga yang kuat, pendidikan karakter yang kokoh, dan masyarakat yang peduli merupakan tiga unsur penting dalam membangun ketahanan generasi muda di Kabupaten Bekasi.
“Perubahan besar dalam masyarakat tidak pernah dimulai dari ruang sidang atau media sosial, melainkan dari rumah. Rumah yang penuh kasih sayang, keteladanan, dan nilai-nilai luhur akan selalu menjadi benteng pertama bagi masa depan bangsa,” ungkapnya




